Orang-orang PKI di Lubang Kuburan yang Mereka Gali Sendiri ( Made Supriatma: Maaf itu Murah)

Seperti biasa, sebelum tidur saya memainkan handphone (HandPhone) dengan maksud supaya mata lelah dan kantuk menghampiri. Dari membuka google, browsing ke situs-situs yang menurut saya baik untuk dikunjungi dan menambah wawasan. Pastinya juga tidak lupa bersosial media, seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Hampir saja memejamkan mata karena lelahnya, sontak mata saya terbelalak dengan salah satu foto di sebuah Facebook. Menurut keterangan foto tersebut adalah, foto orang-orang PKI di lubang kuburan yang mereka gali sendiri di Boyolali, November 1965.

Foto tersebut diupload oleh Made Supriatma, seorang editor di Joyo Indonesia News Service (JoyoNews) dan peneliti masalah-masalah konflik etnis dan kekerasan komunal. Beliau saat ini tinggal di New Jersey, Amerika Serikat.

Selain karena fotonya (menurut saya) menarik perhatian, saya juga tertarik untuk membaca caption/artikel yang tertulis di foto tersebut. Setelah membaca sampai dengan selesai, menurut saya [juga] bahwa tulisan ini baik adanya jika saya ikut membagikannya. Tapi karena melihat telah dibagikan ratusan orang (lebih tepatnya 369 shares; ‘akses” 29 April 2016, pukul 03 WIB) dan mata sepertinya lelah diakibatkan kantuk, maka saya mengurungkan niat untuk membagikan postingan tersebut, dan saya meletakkan HP saya mencoba untuk tidur.

Memikirkan apa yang baru saja saya baca dan membayangkan foto yang saya lihat, meski kantuk sudah menghampiri tapi tidak sanggup rasanya untuk langsung tidur.

Akhirnya, tanpa pikir panjang saya putuskan untuk bangkit dari tidur, membuka laptop kemudian langsung login ke blog dan posting ulang postingan Facebook tersebut di blog SalingSilang.NET yang Anda baca saat ini.

maaf lobang mereka gali sendiri pki salingsilang

Berikut postingan yang saya kutip langsung dari wall/halaman/beranda Facebook bapak Made Supriatna:

Maaf itu Murah: Selama dua hari terakhir ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Eropa sampai Amerika, orang minta maaf. Rata-rata, orang menuntut supaya negara minta maaf pada korban-korban pembantaian 1965.

Ada dua soal untuk saya. Pertama, minta maaf. Kedua, soal negara.

Pertanyaan saya, apakah kita mau minta maaf atau minta keadilan?

Maaf itu gampang. Dan murah. Sama seperti pepatah Inggris bilang, “talk is cheap.” Hari ini, detik ini juga, negara bisa minta maaf.

Terus? Kalo sudah minta maaf, bagaimana menuntut keadilan?

Begitu permintaan maaf disampaikan, akan sangat absah (legitimate) pihak-pihak yang pernah melakukannya, langsung atau tidak langsung akan mengatakan, “Kan sudah minta maaf? Anda itu gimana sih? Wong kami sudah ikhlas minta maaf, ngaku salah. Sing wis yo wis … Let’s move on.”

Saya benar-benar capek dengan minta maaf-maafan ini.

Problem kedua adalah negara. Kenapa negara bermasalah? Karena negara adalah konsep yang abstrak. Sulit untuk menuntut negara sebagai subyek hukum. Dalam kasus genocida di Rwanda, misalnya. Tidak ada tuntutan negara harus bertanggungjawab terhadap pembantaian. Yang disasar adalah individu-individu — termasuk biarawan dan uskup dari gereja Katolik.

Dalam kasus Bosnia, tidak ada permintaan tanggungjawab dari negara Serbia. Yang diminta tanggungjawab adalah Radovan Karadžić dan kawan-kawannya.

Ketika kita minta negara minta maaf dan bertanggungjawab, maka peranan Harto, Sarwo, dan para gedibal-gedibal yang merancang pembunuhan besar-besaran ini hilang. Mereka terpayungi oleh negara. Tentu, Harto akan ketawa jungkir balik di kuburannya yang bermarmer itu.

Mengapa kita tidak berani menuntut keadilan? Rehabilitasi untuk para korban? Kompensasi untuk mereka yang hidupnya dihancurkan, hukuman — walaupun sudah mampus tapi sejarah harus menghukumnya — untuk para pelakunya?

Saya bukannya tidak sadar bahwa ada mekanisme pencarian keadilan yang namanya ‘restorative justice.’ Dalam konteks ini, korban dan pelaku bertemu. Si pelaku mengakui kesalahannya, si korban memaafkan. Selesai? Belum. Restorative justice itu menghendaki , ya, restorasi atau pengembalian seperti keadaan semula. Uang yang dicuri diganti. Gedung yang rusak, diperbaiki. Kadang ‘hukuman’ untuk pelaku ditambah dengan melakukan kerja-kerja untuk masyarakat. Pendeknya pelaku disuruh bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.

Namun bagaimana dengan kehilangan nyawa atau anggota tubuh yang hilang? Nah disinilah masalah. Bagaimana menerapkan kompensasi atas jiwa? Restorative justice hanya bisa dilakukan untuk kejahatan-kejahatan kecil dan dilakukan dalam tingkat komunitas.

Sudahlah. Berhentilah maaf-maafan. Kita minta keadilan. Negara ini berjanji menegakkan keadilan. Bukan membuka pintu maaf … Maaf, saya tidak sependapat dengan maaf-maafan.

Photo: Orang-orang PKI di lubang kuburan yang mereka gali sendiri di Boyolali, November 1965. Sumber: Arsip foto koran The Hindu (India).

*Catatan, setelah postingan ini tampil artinya selesai saya posting kemudian saya mengirimkan url/link postingan blog ini kepada beliau, yaitu Made Supriatma dengan maksud meminta ijin.

Semoga beliau tidak menganggap perbuatan saya ini salah, karena telah menayangkan ulang terlebih dahulu kemudian meminta ijin. Jika salah, maka sudah layak dan sepantasnyalah juga saya akan meminta maaf. Hehe.. 🙂

1605 x Saling Silang :
Google+ | Facebook | Twitter | in | Digg | Technorati | Stumbleupon | Delicious | Reddit | Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*