Home » Aksi Tuang Kisah » 10 Kesaksian Dokter dan Perawat soal Rekayasa Medis Setya Novanto

Ket Foto:Pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunandi menunjukkan foto Setya Novanto yang sedang dirawat di RS Medika Permata Hijau, Jakarta, Kamis (16/11/2017). Ketua DPR RI yang tengah dicari oleh KPK, Setya Novanto, diberitakan mengalami kecelakaan mobil di kawasan Permata Hijau, Kamis malam, dan kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

salingsilang.net-Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, diadili sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Dalam persidangan, jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menghadirkan saksi-saksi. Beberapa di antaranya merupakan rekan Bimanesh sesama dokter dan perawat di RS Medika Permata Hijau. Satu per satu, kasus dugaan menghalangi penyidikan dengan modus merekayasa data medis ini pun terungkap.

Berikut 10 poin keterangan saksi soal upaya merekayasa data medis Setya Novanto: 1. Setya Novanto kecelakaan, tapi dirawat dokter spesialis ginjal Pada 16 November 2017, Fredrich Yunadi pernah meminta agar dokter Instalasi Gawat Darurat (IGD) membuat diagnosa luka akibat kecelakaan terhadap kliennya, Setya Novanto. Namun, pada kenyataannya Bimanesh yang merawat Novanto merupakan dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi. Hal itu dikatakan dokter Alia saat bersaksi di Pengadilan Tipiko Jakarta, Senin (26/3/2018).

2. Pihak rumah sakit kaget dan tak nyaman gara-gara Setya Novanto Dokter Alia menerangkan bahwa pihak Rumah Sakit Medika Permata Hijau merasa kaget atas kasus yang melibatkan Ketua DPR RI Setya Novanto di rumah sakit tersebut. Dokter dan manajemen rumah sakit merasa tidak nyaman atas kasus dugaan menghalangi penyidikan yang melibatkan dokter Bimanesh Sutarjo.

3. Dilarang menghubungi direktur rumah sakit Dalam persidangan, dokter Alia mengaku pernah dilarang oleh terdakwa, yakni dokter Bimanesh Sutarjo, agar tidak memberitahu pimpinan rumah sakit mengenai masuknya pasien atas nama Setya Novanto. Pimpinan yang dimaksud adalah Direktur RS Medika Permata Hijau, Hafil Budianto.

4. Dokter Alia pindah tempat bekerja setelah kasus rekayasa data medis Dokter Alia memutuskan berhenti bekerja setelah dua tahun menjadi pegawai di Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta. Keputusan Alia untuk pindah tempat bekerja itu semakin kuat setelah kasus yang melibatkan Setya Novanto terjadi di rumah sakit itu. 5. Tubuh Novanto ditutup selimut Menurut perawat Nana Triatna, ada yang aneh saat Novanto baru tiba di rumah sakit pada 16 November 2017. Sebelum dibawa ke salah satu ruangan rawat inap, seluruh tubuh Setya Novanto ditutup dengan beberapa selimut. Saat dibawa menggunakan brankar, hanya wajah Novanto yang terlihat. Hal itu tidak lazim dilakukan terhadap pasien yang baru mengalami kecelakaan. “Pas saya keluar IGD, pasien sudah ditutup selimut. Cuma mukanya kelihatan, kayak pakai jilbab. Mukanya saja kelihatan,” kata Nana.

6. Dua perawat pastikan tak ada luka di wajah Setya Novanto Dua perawat Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Nana Triatna dan Suhaidi Alfian memastikan tidak ada luka atau benjolan di wajah Setya Novanto. Keduanya yang melihat langsung kondisi Novanto membantah ada benjolan di kepala sebesar bakpao, seperti yang pernah dikatakan Fredrich Yunadi. 7. Dokter IGD sudah tahu Setya Novanto jadi buronan KPK Dokter Michael Chia Cahaya yang bertugas di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Permata Hijau menolak merekayasa data medis pasien atas nama Setya Novanto. Michael ternyata sudah mengetahui bahwa Novanto sedang berurusan dengan KPK. Menurut Suhaidi, Michael tidak mau membuat diagnosa karena belum memeriksa pasien. Selain itu, Michael tahu bahwa Setya Novanto sudah menjadi buronan KPK.

7. Dokter IGD sudah tahu Setya Novanto jadi buronan KPK Dokter Michael Chia Cahaya yang bertugas di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Permata Hijau menolak merekayasa data medis pasien atas nama Setya Novanto. Michael ternyata sudah mengetahui bahwa Novanto sedang berurusan dengan KPK. Menurut Suhaidi, Michael tidak mau membuat diagnosa karena belum memeriksa pasien. Selain itu, Michael tahu bahwa Setya Novanto sudah menjadi buronan KPK.

8. Perawat mudah mengingat ciri-ciri fisik Fredrich Yunadi Dalam persidangan, ketiga perawat yakni, Nana Triatna, Suhaidi Alfian dan Apri Sudrajat dikonfirmasi soal kedatangan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi di rumah sakit. Mereka pun dapat memastikan bahwa orang yang mereka temui di rumah sakit pada 16 November 2017 lalu adalah Fredrich. Salah satu yang meyakinkan para perawat tersebut adalah ciri-ciri fisik Fredrich Yunadi. Para saksi dapat dengan mudah mengenali foto wajah Fredrich yang ditampilkan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam persidangan. “Orangnya, tinggi, kumisan, pakai kaca mata, botak, dan di bajunya ada tulisan advokat,” ujar Suhaidi kepada jaksa KPK. Menurut para saksi, Fredrich datang ke rumah sakit dan mengaku sebagai pengacara Setya Novanto. Fredrich menanyakan keberadaan dokter Michael Chia Cahaya yang saat itu bertugas di IGD. Menurut para saksi, Fredrich meminta dokter Michael agar membuat diagnosa bahwa Novanto mengalami luka akibat kecelakaan. Namun, permintaan itu ditolak Michael.

9. Dokter IGD pilih dipecat ketimbang rekayasa data medis Setya Novanto Dokter Michael Chia Cahaya yang bertugas di IGD mengeluhkan kepada dokter Alia seputar permintaan Fredrich untuk membuat diagnosa kecelakaan terhadap Setya Novanto. Menurut Alia, Michael yang sudah emosi sampai menyatakan bersedia dipecat ketimbang harus menuruti permintaan Fredrich.

10. Pesan kamar untuk diagnosa hipertensi Menurut dokter Alia, pada siang hari Fredrich memesan kamar VIP yang akan digunakan untuk Setya Novanto. Rencananya, Novanto akan dirawat inap dengan diagnosa mengalami hipertensi berat. Bahkan, Fredrich sempat datang ke rumah sakit dan memeriksa kondisi kamar yang akan digunakan Novanto. Namun, belakangan Fredrich meminta agar diagnosa diubah dengan keterangan luka akibat kecelakaan. Padahal, saat itu Novanto belum tiba di rumah sakit.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “10 Kesaksian Dokter dan Perawat soal Rekayasa Medis Setya Novanto”, https://nasional.kompas.com/read/2018/03/27/07044171/10-kesaksian-dokter-dan-perawat-soal-rekayasa-medis-setya-novanto?page=2.
Penulis : Abba Gabrillin
Editor : Sabrina Asril

Bukan SalingSilang.com
Paus Fransiskus Mendoakan Korban Bom di Surabaya

Paus Fransiskus Mendoakan Korban Bom di Surabaya

Pengeboman yang terjadi di Surabaya menjadi perhatian dunia. Pemimpin Vatikan Paus Fransiskus mendoakan agar kekerasan yang terjadi segera berakhir. Paus Fransiskus meyakinkan orang-orang Indonesia dan khususnya orang-orang Kristen di Surabaya bahwa ia ‘sangat dekat’ dengan mereka. Pernyataan itu disampaikan Paus menyusul serangan mematikan
Jendral Tito Karnavian: Mako Brimob Kelapa Dua Tak Layak Jadi Rutan Teroris

Jendral Tito Karnavian: Mako Brimob Kelapa Dua Tak Layak Jadi Rutan Teroris

Saling Silang – Insiden berdarah yang terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, disebut-sebut akibat beberapa permasalahan. Salah satu permasalahan yang menjadi pemicu penyerangan dan penyanderaan beberapa anggota polisi adalah tak layaknya rutan tersebut yang dijadikan tempat penahanan sementara bagi
PDIP Ajak Demokrat Sepakati Gamawan-Diah Anggraini Hulu Korupsi E-KTP

PDIP Ajak Demokrat Sepakati Gamawan-Diah Anggraini Hulu Korupsi E-KTP

Salingsilang.net–Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan mengajak Partai Demokrat bersama-sama mendukung KPK menuntaskan kasus dugaan korupsi KTP Elektronik secara tuntas dari hulunya dan dari sumbernya. “Kami paham beban psikologis Demokrat, mengingat kasus korupsi tersebut terjadi pada pemerintahan SBY dan
Alumni 212 Dukung Prabowo Asal Tegakan Syariat Islam, Ini Jawaban Gerindra

Alumni 212 Dukung Prabowo Asal Tegakan Syariat Islam, Ini Jawaban Gerindra

Salingsilang.net–Partai Gerindra merespons syarat yang diberikan Persaudaraan Alumni 212 kepada Prabowo Subianto jika ingin didukung pencalonannya sebagai bakal calon presiden di Pemilu 2019. Persaudaraan Alumni 212 menyatakan bakal mendukung Prabowo dengan syarat Ketua Gerindra itu bersedia menegakkan hukum Islam seandainya terpilih nanti. “Partai
Anies Baswedan Tak Mau Pekerja Alexis Jadi Korban

Anies Baswedan Tak Mau Pekerja Alexis Jadi Korban

Salingsilang.net – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pelanggaran yang ada di Alexis diketahui semua orang termasuk pekerjanya. Anies tak ingin ada kesan pekerja merasa jadi korban akibat penutupan Alexis. “Saya ingin garis bawahi, ini pelanggaran yang dilakukan dan diketahui semua yang bekerja di