Home » Opini » Dunia Politik bagi Kaum Aktivis yang Lemah Ideologis
daniel pay halim

Oleh: DANIEL PAY HALIM / (Individu Merdeka)

“Caleg: Mata Pencaharian Baru & Lemahnya Ideologis Kaum Aktivis”

SALING SILANG – Setiap lima tahun sekali Indonesia mengalami pergulatan hebat di dunia politik, baik tingkat elite politik hingga masyarakat sipil luas. Tahun tersebut adalah tahun pemilihan umum atau yang biasa disebut dengan tahun (Pemilu). Jika diamati, pada tingkatan masyarakat, diskusi dan perdebatan dilakukan hampir disetiap tongkrongan sehari-hari di warung makan dan kopi, di kaki lima, perkumpulan diskusi, serta tiap lini masa media sosial kita terus di boombardir berbagai postingan yang berbau ejekan, sindiran, hingga berujung bubarnya tali silahturahmi antar sesama kawan kerap kali terjadi karena perbedaan pandangan politik.

Sedangkan pada tingkat elite dan calon elite politik, majunya kader-kader politik dari berbagai partai disiapkan untuk memenangkan pertarungan yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mulai dari artis, intelektual, usia muda-tua hingga pengganguran, berbondong-bondong mencalonkan diri. Strategi partai, janji sang Calon Legislatif (Caleg) terus dikumandangkan di kampanye-kampanyenya demi kemenangan yang diimpikan. Sedangkan dari sisi pengusaha, terlibatnya mereka dalam lingkaran elite politik yaitu dalam bentuk pengamanan bisnis serta mengakumulasikan modal mereka agar semakin luas dan tanpa hambatan, juga agar dikenal sebagai orang yang lebih dihormati oleh rekan sejawatnya.

Pertanyaannya, apakah dari kesemuanya itu berjalan sesuai dengan keinginan & kebutuhan rakyat, khususnya rakyat yang tertindas? Disisi lain, bagaimana kemudian kader-kader aktivis atau barisan anti Kapitalisme mengumandangkan gerakannya? Mengapa justru beberapa individunya terlibat dalam partai borjuis/elite?

Mata Pencaharian Baru (gaji & besarnya biaya yang harus dikeluarkan)

Berdasarkan surat Menteri Keuangan No. S-520/MK.02/2015, diketahui rincian gaji anggota DPR pusat, yakni :

  1. Gaji pokok Rp 4,2 juta
  2. Tunjangan komunikasi Rp 15,580,000
  3. Tunjangan kehormatan Rp 5,580,000
  4. Bantuan langganan listrik dan telepon Rp 7,7 juta
  5. Tunjangan peningkatan fungsi pengawasan dan anggaran Rp 3,750,000
  6. Uang sidang Rp 2 juta.

Jika diakumulasi dengan beberapa poin gaji lainnya, maka uang gaji yang dibawa pulang anggota DPR sebesar Rp 54 juta/bulan.

caleg tidur

Sedangkan untuk daerah, Peraturan Pemerintah/PP Nomor 18 tahun 2017 juga berbunyi tentang Hak Keuangan dan Administrasi Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Substansi dari PP Nomor 18 Tahun 2017, adalah tambahan tunjangan bagi anggota DPRD. Kenaikan tunjangan bisa membuat anggota legislatif mengantongi pendapatan Rp 30-35 juta per bulan.

Direktur Prajna Research Indonesia, Sofyan Herbowo, mengatakan biaya untuk branding politik tidak sedikit. Semakin rendah popularitas seseorang, biaya akan semakin mahal. Hal lain yang juga menentukan murah-mahalnya modal maju sebagai caleg adalah tingkat literasi media. Semakin tinggi tingkat konsumsi media di suatu daerah, semakin murah biaya untuk pencalegan.
Dari riset yang selama ini telah dilakukan, Sofyan menyebutkan ada biaya minimal yang harus disiapkan oleh seorang caleg saat akan menghadapi Pileg.

Adapun perinciannya yaitu :

  • Calon anggota DPR RI : Rp 1 miliar – Rp 2 miliar
  • Calon anggota DPRD Provinsi : Rp 500 juta – Rp 1 miliar
  • Calon anggota DPRD kabupaten/kota : Rp 250 juta – Rp 300 juta

Apa yang kemudian menyebabkan tingginya biaya kampanye caleg tersebut?
Tak bisa dipungkiri, tentunya tiap langkah yang diambil memerlukan logistik, alat peraga kampanye dan sejenisnya. Mari kita coba menghitungnya, semisal : kota X mempunyai 31 kecamatan dibagi menjadi 5 Dapil, artinya rata-rata 1 Dapil terdiri dari 5 kecamatan. Sedangkan 1 kecamatan rata-rata minimal terdiri dari 5 kelurahan. Jadi 1 caleg DPRD Kota harus mensosialisasikan dirinya di 25 kelurahan. Kalau para caleg beranggapan mensosialisasikan diri dengan pasang spanduk/baliho/poster, mari kita hitung biayanya. Kalau untuk membuat 1 spanduk saja perlu dana Rp.200 ribu (cetak spanduk, beli kayu dan tali untuk pemasangan), maka di 1 kecamatan perlu dana Rp. 1 juta. Itu kalau hanya 1 spanduk saja di tiap kelurahan. Padahal 1 kelurahan luas cakupannya, minimal 2 spanduk, maka dana Rp. 10 juta rupiah habis hanya untuk pengadaan spanduk di 5 kecamatan. Kalau baliho besar perlu dana Rp. 500 ribu, maka jika 1 kelurahan hanya pasang 1 baliho, maka untuk 25 kelurahan di 5 kecamatan perlu dana Rp. 12,5 juta. Belum lagi poster-poster yang dalam radius 500 meter saja jumlahnya bisa berpuluh-puluh. Semua perhitungan di atas baru sebatas harga material alat peraga kampanye, belum ongkos pemasangan, dll. Belum lagi kalau mereka melakukan kegiatan di Dapil apalagi yang bersifat panggung terbuka.

Ditambah, caleg saat ini banyak yang tidak memahami kondisi geografis dan masyarakat pemilihnya, sehingga sangat mudah dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Seseorang bisa saja mendatanginya, berjanji akan menyediakan ribuan pendukung. Pemberian ribuan pendukung tentu saja akan diberikan dengan syarat caleg tersebut harus memberikan banyak uang. Tentu juga akan diminta biaya politik seperti menjamu para tamu untuk makan dan minum. Dana yang dibutuhkan untuk menyenangkan para pendukung tentu sangat banyak sehingga terjadi “money politic”.

surat suara

Artinya, dana yang dikeluarkan pada saat kampanye bukanlah dalam hitungan sedikit. Oleh sebab itu tidak heran mengapa para caleg menginginkan modalnya kembali. Sangat jarang kita ketemui caleg yang memang berlandaskan kemampuannya ditengah-tengah rakyat yang bisa memimpin dan mengedukasi. Yang banyak hanya mampu bermodalkan materinya secara keuangan, yang secara tak langsung mereka menginginkan modalnya juga kembali dengan cepat, dan hal tersebut dapat terwujud dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun. Fenomena ini yang kemudian menjadikan anggota DPR/DPRD sebagai profesi yang menguntungkan bagi dirinya sehingga banyak diramaikan dari berbagai kalangan. Mayoritas mereka bukanlah berjuang untuk kepentingan rakyat tapi untuk membesarkan rekening mereka. Sebagian dari mereka bahkan dapat melakukan tindakan seperti korupsi karena dinilai berpotensi dan tidak puasnya pendapatan yang telah diperoleh.

Lemahnya Ideologis Kaum Aktivis

Tak terkecuali, dari berbagai kalangan seperti yang disebutkan diatas, mulai dari artis, pengusaha, intelektual, muda-tua, hingga pengganguran, semua ikut serta dalam meramaikan panggung pileg, termasuk yang mengaku dirinya kaum revolusioner (kiri & anarkis). Bukanlah merupakan hal baru fenomena ini terjadi. Tahun 2000an ada beberapa pentolan nama yang ikut serta aktif pada aksi massa menumbangkan rezim diktaktor Soeharto ikut terjun ke dunia elite partai politik yang sampai sekarang masih duduk langgeng di kursi Senayan. Hingga saat ini masih terus juga berlangsung. Yang menjadi ironis adalah mereka yang menolak sistem kapitalisme & birokrat borjuis kemarin, hari ini justru malah akhirnya bertekuk lutut di hadapan lawannya. Ada juga sebagian kelompok menyebutnya dengan sebutan “kolaborasi kelas”, yaitu ada saat dimana kelas rakyat tertindas bisa menyatu dengan kelas borjuis. Berbagai macam alasan demi alasan yang dilontarkan kawan-kawan yang dulunya begitu militan dalam berjuang akhirnya berbalik arah. Ada yang beralasan ingin memajukan tempat tinggal kampung halamannya, ada alasan partai tersebut diisi oleh sekolompok anak muda, ada alasan ingin merubah sistem dari dalam elektoral, dsb. Masing-masing semua mempunyai alasan atas dirinya sendiri. Tapi pada faktanya, terhitung mulai dari tahun 2000an tersebut pendahulu-pendahulu yang berhasil menjadi caleg mampu berpihak pada rakyat? Terkhusus dalam konteks merubah sistem dari elektoral? Sejauh ini belum ada.

dalam sidang merem

Mereka-mereka yang duduk di kursi legislatif pada kenyataannya sangat minim ideologi, program dan tujuan yang akan dimenangkan oleh rakyat. Jika saja mereka bersepakat pada pembangunan kekuatan alternatif rakyat harusnya hal inilah yang terus dikibarkan sebagai solusi, bukan berjabat tangan dengan para penindas dengan tidak menjual ideologi yang bukan didapatkan begitu saja secara percuma.

Pemahaman akan kelas yang tertindas adalah pemahaman yang penuh sejarah, keringat, darah dan air mata. Dan itu sudah dibuktikan di berbagai belahan dunia melalui perjuangan kaum buruh Amerika menentukan jam kerja layaknya 8 jam sehari, pembebasan tanah yang dilakukan oleh kelompok tani di Chiapas, Meksiko, dan perjuangan- pembebasan lainnya di berbagai belahan bumi manapun. Semuanya perjuangan pembebasan tersebut telah diabayar mahal dengan berbagai cara hingga meregang nyawa sekalipun. Kita tak pernah sadar akan hal-hal tersebut telah dibayar mahal kalau kita tidak pernah menumbuhkan pentingnya rasa percaya pada iman perjuangan dengan tidak melupakan kerja-kerja kita sebagai revolusioner (propaganda, agitasi, aksi massa).

Banyak dari kawan-kawan seperjuangan masuk ke dalam politik elektoral dipandang sebagai “alat sementara” yang bisa membawa pengaruh ketika berada dalam ruang lingkup legislatif. Tapi pada kenyataannya, justru terbalik. Mereka-mereka yang duduk justru terlena dengan fasilitas kenyamanan yang diberikan. Hingga saat ini, praktis belum ada individu-individu yang memang berani keluar dari zona nyamannya sebagai caleg dan partainya. Hanya kecil kemungkinan dan itu hampir tidak pernah nyata. Karena partai yang mereka gunakan adalah partai yang memakai sistem/mekanisme yang tunduk pada birokrat elitis, maka kepentingan yang dipakai adalah kepentingan elitis, bukan pada kepentingan rakyat. Pun begitu seterusnya.

dpr tidur

Oleh karena itu, bagi kita yang sadar dan masih setia pada garis perjuangan rakyat tertindas, teruslah kibarkan panji-panji perlawanan kita, kepalkan tangan kiri ke atas, dan tetap berteriak di garis massa yang tertindas, menyadarkan mereka karena haknya telah dirampas, menanggung beban bersama, dan saling berbagi. Karena nasib kita bukan menitipkan pada mereka partai borjuis, bukan juga pada aktivis yang menajadi caleg, hingga pemerintah. Tapi, nasib kita haruslah kita sendiri yang menentukan dengan memenangkan pertarungan bagi mereka yang tealh merampas kehidupan dan kebebasan kita selama ini. Bangun kekuatan rakyat tertindas, percaya pada ideologi kita sendiri, dan berjuang bersama-sama tanpa mengenal rasa lelah hingga kemenanganpun tiba. Itulah kunci sejati kemenangan rakyat.

Daniel Pay Halim
(Individu Merdeka)

Referensi:
https://www.kompasiana.com/iraannisa/54f7fc9fa33311b3618b47bf/biaya-kampanye-caleg-mahal-perlu-solusi-menyederhanakan-pencalegan

https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/02/04/mhou67-ini-penyebab-biaya-kampanye-mahal

https://nasional.tempo.co/read/893945/tunjangan-dprd-bakal-dinaikkan-fitra-apbd-424-daerah-bisa-tekor/full&view=ok

https://www.idntimes.com/news/indonesia/afrianisusanti/banyak-artis-hingga-menteri-nyaleg-ini-rincian-gaji-anggota-dpr

tags: , , ,
Bukan SalingSilang.com
Presiden Ingin Media Sosial Dimanfaatkan Untuk Sebarkan Dakwah Islam

Presiden Ingin Media Sosial Dimanfaatkan Untuk Sebarkan Dakwah Islam

SALING SILANG – Saat berbicara dalam acara penutupan Pengkajian Ramadan 1439 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Presiden Joko Widodo menyadari potensi penggunaan media sosial untuk berbagi informasi, termasuk menyebarkan dakwah Islam. Seperti misalnya sejumlah tokoh Muhammadiyah yang sukses memanfaatkan hal itu. “Dakwah
Kebahagiaan Anak Terbukti Mendatangkan Uang

Kebahagiaan Anak Terbukti Mendatangkan Uang

Judul : Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak Penulis : Ayah Edy Penerbit : Noura Books, PT Mizan Publika Terbit : Februari, 2014 Tebal : 216 halaman SalingSilang-NET – Tak ada anak yang bermasalah, yang bermasalah mungkin sekolahnya, gurunya, atau lingkungannya, begitu
Sejauh Mana Anda Gagal?

Sejauh Mana Anda Gagal?

Judul: GAGAL PERTAMAX Gan! Penulis: DON Barnes & DWI Sammy Penerbit: Puspa Swara Terbit: 2014 Tebal: 192 halaman Lebih baik gagal dulu baru sukses, daripada sukses dulu baru gagal. Hayo… Anda pilih mana? Kalau kau gagal, maka kau hanya punya dua pilihan: jadi
Terampil Berpikir Benar Terhindar dari Cacat Logika dan Sesat Pikir

Terampil Berpikir Benar Terhindar dari Cacat Logika dan Sesat Pikir

Judul: KITAB anti BODOH Penulis: Bo Bennett, Ph.D Penerbit: Penerbit Serambi Tebal: 380 halaman Setelah membaca buku ini, Anda akan menjumpai banyak kekeliruan berpikir dalam sehari-hari yang mungkin tak Anda sadari sebelumnya, termasuk barangkali kekeliruan pada diri Anda sendiri. Kalimat diatas yang membuat
Satpam Itu Pahlawan Sekaligus Korban Ledakan

Satpam Itu Pahlawan Sekaligus Korban Ledakan

Terjadi tembak-tembakan dan ledakan bom, Kamis 14 Januari 2016 di jalan Thamrin-Sarinah Jakarta Pusat. Belum dapat dipastikan apa atau siapa dalang dibalik kejadian tersebut, juga jumlah korban yang sebenarnya secara detail dan pasti. Namun satu hal yang pasti, ada tulisan ekslusif yang tidak